Tuesday, April 29, 2008

JARAK DAN CINTA

  Laughing   Apakah cinta itu harus menyatu dan menjadi satu, maka pasti jawabannya adalah ia. Tapi, dalam sisi lain saya mencoba menghayati cinta dari belahan samudera yang lain. Benarkah cinta harus menyatu dan menjadi satu?. Jawaban saya tidak harus, mengapa karena gelombang cinta telah membawaku pada muara rindu, dari kerinduan itulah sebenarnya saya rasakan cinta yang sebenarnya. Jika saya selalu berkumpul dan menyatu dengan istri, maka keindahan itu tidak saya dapatkan seperti sekarang ini, yang hati dan pikiran selalu mengingatnya dalam jaga dan tidurku. Mungkin itu cinta, namun jika saya selalu didekatnya mungkin cinta itu menjadi biasa. Tidak ada yang luar biasa! Karena cinta itu adalah kerinduan yang mendalam dari seorang kekasih untuk kekasihnya.
Kerinduan Nabi saw, para Wali dan hamba-hamabanya yang sholeh adalah sebuah pertemuan dengan Kholiq, sehingga sangat banyak kisah para sahabat yang ingin cepat meninggalkan kegersangan bumi ini untuk bertemu dengan hadiratnya. Dan pertemuan denganNya lebih indah dari pada sorganya.
Saya katakan pada istri saya bahwa kasih sayang saya semakin bertambah karena ternyata jarak benar-benar membuatku ekstasi untuk selalu berada di dekatnya dan tidak ingin lagi meninggalkannya. Dengan nahkoda kesabaran dan kesepahaman akan membawa keluarga pada dermaga sakinah, mawaddah dan rohmah.

Yah umah sayang jenengan ,saya gak pernah pingin meninggalkan jenengan,itu rasa ketakutan umah,dan gak usah dipikir geh sayang! semua kita serahkan kepada Allah,adik dan umah selalu sabar menunggu jenengan.( SMS dari seorang istri)

Sabar ya sayang. disinilah kita bisa menikmati rasa rindu yang dikaruniai oleh Allah, memberi pelajaran tentang kehidupan,Umah selalu berdoa semoga jenengan kuat menghadapi ini semua. Sabar..ya sayang.!!! (SMS dari seorang istri)

Riyadh, 12 April 2008

Posted by Umi Nayif Azmy in 09:10:43 | Permalink | Comments (1) »

Sunday, April 20, 2008

MASIH ADAKAH MARAH DALAM CINTA

 

halimi zuhdy

Masih adakah marah dalam cinta, pertanyaan itu muncul ketika istri saya bertanya tentang marah, saya jawab ” bagaimana bisa marah pada orang yang membuat hatkui selalu merindukannya dan membuat mata tidak mampu terpejam karena cintaku,dan hatinya sudah saya rengkuh dalam batinku” adakah marah dalam cinta, tentunya ada, tapi sejauh mana kita bisa marah pada istri, istri yang telah melayani kita sehingga kita terselamatkan dari zina dan kerusakan moral, istri yang telah memberikan senyumnya ketika kita marah, istri yang memberika rindu ketika dalam kegersangan, istri yang telah memberikan cahaya cinta ketika kita dalam kegelapan, istri yang telah membelai kita dalam kondisi stress, istri yang telah memberikan samudera kasih sayangnya dalam diri kita, memberikan solusi, membuat kita tersenyum dalam kesedihan, dan memberikan seorang anak dengan usahanya yang cukup memayahkan, bahkan antara hidup dan matią„¤ PANTASKAH KITA MARAH PADANYA. Masih ada rasa marahkah dalam diri kita karena hanya gara-gara persoalan kecil, yang masih bisa kita selesaikan dengan damai dan musyawarah. Masih adakah keinginan marah kepadanya, hanya gara-gara berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita, dan itu tidak melanggar syari’ah, karena kita diciptakan memang berbeda, masihkan kita bersikukuh demi meuaskan keinginan kita dan marah ketika tidak sama dengan apa yang kita minta. Jika masih bisa marah padanya, maka tanyakan pada diri kita masih adakah rasa cinta itu padanya.

Betapa junjungan kita selalu membahagiakan istrinya, berbuat lembut pada mereka dan selalu memberikan yang terbaik, bahkan tidak pernah berbuat kasar. Toh kalau mereka salah, ia menegur dengan lemah lembut. Dan ia sangat mesra dengan para istrinya.
Di antara kebaikan akhlak Nabi SAW dan pergaulannya yang baik adalah beliau memanggil ummul mukminin dengan nama kesayangan, dan memberi kabar yang sangat menyenangkan hati. Pada suatu hari Rasulullah bersabda ” wahai ‘Aisyah, ini jibril mengucapkan salam kepadamu”. (Muttafaq alaih)
Aisyah berkata “Aku minum ketika sedang haid, lalu aku memberikannya kepada Nabi SAW, maka beliau meletakkan mulutnya ketempat bekas mulutku, dan aku memakan daging lalu beliau mengambilnya dan meletakkan mulutnya dibekas mulutku”.(HR. Muslim). “Dari ‘Aisyah aku mandi bersama Rasul dengan dari satu bejana” (H.R Bukhari).
Al-Bukhari meriwayatkan bahwa-sanya tatkala Rasulullah saw kembali dari perah Khaibar dan menikah dengan Shafiyah binti Huyay r.a beliau melilitkan kain di sekitar untu yang dikendarainya untuk menutupi Shafiyah, kemudian beliau duduk di samping untanya, lalu Shafiyah meletakkan kakiya di atas lutut Nabi saw sebagai pijakan ketika naik kepunggung unta.
Pemandangan ini menunjukkan kerendahan hati Rasulullah saw, walaupun beliau seorang pemimpin yang sukses, ini ajaran yang sangat indah dari seorang teladan.
Pesan Rosulullah saw ” Ala was taushu bin nisa’, berwasiatlah kepada wanita dengan baik” (HR. Muslim).

Riyadh, 13 April 2008

Posted by Umi Nayif Azmy in 08:54:52 | Permalink | Comments (2)